Sunday, October 25, 2009

HONJO BOSAIKAN FACTORY STUDY TOUR



My first experience of Factory Study Tour class was visited Honjo Boikan (Life Safety Learning Center) in Tokyo. This place was established with aims to strengthening people from disaster that can come up anytime and anywhere. It took about one hour from O-okayama campus to this place and along the trip we can saw some good spots around Tokyo. The first activities after we arrived in this place were watched a 3D movie that explain about disaster and explanation for safety action. After that we were divided into several groups consist of 15 people each group to follow another activities and did some simulation.

Inside the building there were several simulation gaining audience understanding of first action when disaster showed up. The first simulation we took were simulation of earthquake disaster. In this simulation we were step up into a machine simulator that shakes very hard (maybe 3.0 Richter scale) and we must kept our head and body under the table for safety. We complete this task perfectly and safely since we were followed the safety instruction for this simulation.

The next simulation was fire extinguish simulation. In this simulation we must turn off fire with fire extinguisher. Every participant must took a fire extinguisher in their hand. Fortunately, the fire was a "digital" fire not an original fire so we didn't have to be scared of its flame. The simulation showed the "digital" fire was on the big screen television and we must turn off the fire by spraying the fire extinguisher onto this screen. But before we ran to the screen we must shout "FIRE" in Japanese language (KAJIDA) to warn other people in the real condition.

The simulation of Wind and Typhoon disaster were become the next simulation. This is one of my favourite simulations because we were faced up with artificial typhoon disaster. We must used a coat to prevent our self from getting wet because in this simulation we were hit by strong wind and water same as a real typhoon (but in low level than the real typhoon of course). I was choose to stand up in the front of the line where the highest impact was hit.

The last simulation was the "fogging room" simulation. Why it is called "fogging room", because in this simulation we were entering a room full of fog and in this simulation we must get off that room as fast as we can. Like playing in the labyrinth we must found out the exit door (follow the sign) to escape. Maybe, it took several minutes in that room and honestly the smell is very sting and disgusting.

Finally, after followed some simulation and explanation for safety action, we are went to campus again. But, honestly it was very great experience following this program. Because from the experience that we have took from this place, we can take the right action to face disaster when it was showed up (but I hope it will not occur during my period in Japan).

Friday, October 9, 2009

Welcome in Japan (よこそ)

Wah ndak terasa sudah 2 minggu saya menginjakkan kaki di negeri orang, meninggalkan negara yang dicintai untuk sementara dan baru sekarang bisa publish pengalaman mengenai perjalanan dan pertama kali mendaratkan kaki (seperti kayak Neil Amstrong aja) di Jepang. Jadi ini dia pengalaman mengenai awal kedatangan dan perjalanan saya ke Jepang ^_^

Berangkat dari Indonesia pukul 18.00 WIB dan sampai di Jepang pada pukul 07.40 (waktu Jepang) dan alhamdulillah sampai dengan selamat. Berangkat dari Jakarta dengan menggunakan Malaysia Airlines dan transit dahulu di Kuala Lumpur sebelum lanjut ke Jepang (Narita). Baru pertama kali naik di atas pesawat lebih dari 12 jam, waktu terlama tidak menginjakkan kaki di daratan. Subhanallah akhirnya salah satu impian untuk bisa mampir ke negeri sakura dapat tercapai juga

Dari Indonesia (Bandara Soekarno-Hatta) pesawat tidak langsung menuju Jepang, namun melakukan transit dahulu ke Malaysia (Kuala Lumpur). Dari Indonesia butuh waktu sekitar 2 jam untuk pesawat sampai ke Kuala Lumpur dan sampai pada pukul 21.00 (waktu Malaysia,karena ada perbedaan waktu 1 jam antara Jakarta dengan Kuala Lumpur). Selama di bandara ini, saya terpesona akan arsitektur bangunan yang modern dan terstruktur sehingga tidak terasa menunggu terlalu lama

Sampai di Narita alhamdulillah tidak terjadi banyak kendala dalam pengurusan imigrasi dan barang bawaan. Setelah mengikuti prosedur yang ada, alhamdulillah semua urusan lancar dan tanpa masalah. Padahal sebelumnya sempat berpikir bahwa pihak imigrasi akan sedikit "bertle tele" dan memakan banyak waktu, namun dengan menunjukkan beberapa dokumen yang dibutuhkan alhamdulillah prosesnya cepat selesai. Urusan bagasi pun tidak ada masalah, tidak ada pengecekan isi barang bawaan selama di Bandara, hanya diperlukan untuk mengisi sebuah form yang berisikan beberapa pernyataan mengenai barang bawaan yang dibawa (mereka tampaknya menjunjung tinggi kejujuran dan percaya atas apa yang dituliskan oleh penumpang). Sempat sedikit ketar ketir juga jika pihak Bandara sedikit "iseng" dengan mengecek barang bawaan, karena ada barang titipan teman yang tidak terlalu tahu isinya apa (panik juga misalnya ditanya, "apa isi bungkusan ini?").

Setelah semua urusan bagasi dan imigrasi selesai, akhirnya bisa juga keluar dari pintu bandara Narita. Dari sini, saya mencoba untuk mencari tutor saya yang berencana untuk menjemput dan mengantar menuju dormitory. Ternyata selain bertemu dengan tutor ada juga senior dari PPI Tokodai yang datang untuk menjemput. Setelah sibuk sana sini akhirnya saya berangkat bersama menggunakan kereta. Dikarenakan saya datang tepat pada hari Jumat, maka saya tidak langsung menuju dormitory melainkan langsung menuju kampus untuk melaksanakan solat jumat terlebih dahulu. Untunglah tutor saya mengerti, dan mau menunggu hingga saya selesai solat Jumat sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju dormitory.

Sesampainya di dormitory, saya harus melakukan beberapa prosedur pendaftaran dan mengisi form yang disediakan. Cukup banyak form yang harus diisi, karena akan digunakan untuk proses pengajuan syarat kependudukan selama di Jepang. Setelah selesai, kemudian saya diajak untuk berkeliling melakukan orientasi dormitory, termasuk melihat kamar yang akan digunakan. Ternyata di dalam kamar yang akan saya gunakan, sudah terdapat fasilitas yang cukup lengkap utnuk keperluan sehari hari. Mulai dari tempat tidur, kamar mandi, dapur + kompor gas, AC+heater, microwave, kulkas, vacum cleaner, mesin cuci, dll semua sudah ada (kecuali internet yang harus mendaftar terlebih dahulu).

Cukup sampai disini dulu untuk cerita awal kedatangan saya di Jepang, ternyata menulis macam ini cukup melelahkan dan juga membutuhkan konsentrasi tinggi ya. Hmmm...harus mulai dibiasakan nih tampaknya, insya Alloh bisa.

Salam, part 1


note :
PPI (Persatuan Pelajar Indonesia)
Tokodai (Tokyo Kogyo Daigaku) = Tokyo Institute of Technology

Thursday, October 8, 2009

Mulai Memasak : Capcay Alakadut


Dengan Bangga mempersembahkan :

-----------------------------------------------------
CAPCAY ALAKADUT
-----------------------------------------------------

Insya Alloh Halal
Komposisi :
- Sayur - sayuran (pokoknya yang ada di Lemari es) embat aja
- Daging Seafood
- Kornet (dibawa langsung dari Indonesia, dengan biaya pengiriman Rp3.500.000)


MAU TAHU RASANYA???
PENASARAN
silahkan dicoba sendiri langsung ke tempat pembuatannya :
Shofu Dormitory, 21-13 Matsukaze-dai, Aoba-ku, Yokohama-Shi,Kanagawa-Ken 227-0067
JAPAN



--A.S.H--
Posted by Picasa