Social Icons

Saturday, July 12, 2008

Krisis Listrik dan Mengapa...

Setelah lama tidak menerbitkan tulisan dalam blog ini. Tampaknya hati tersentuh juga untuk kembali menulis. Karena terkenang suatu filosofi yang dari dahulu ada "latihlah,latihlah, dan latihlah untuk mempertajam kemampuanmu" dan juga "waktu adalah pedang bermata dua maka gunakan waktu untuk sesuatu yang berguna walau hanya sedikit". Karenanya saya rasa perlu untuk dapat kembali menuangkan tulisan dalam blog ini kembali.

Ada sebuah masalah yang saat ini sedang panas - panasnya di media dan masyrakat. Menjadi hot di media karena media adalah industri dan memerlukan pasokan berita baru sementara heboh di masyrakat karena sangat berhubungan dengan kehidupan dan kesejahteraan mereka. Namun lebih terasa lagi karena menyentuh seluruh kalangan di Indonesia..
ya benar masalah krisis listrik

Bagaimana tidak ketika diinformasikan bahwa akan ada pemadaman lsitrik di Indonesia maka hampir seluruh kalangan masyarakat menanggapinya dengan tidak antusias. Hal ini terjadi karena listrik sudah menjadi bagian fundamental dalam kehidupan masyarakat,tanpa listrik maka bisa dikatakan pada saat ini seperti kembali ke jaman purba.

Maka pada tulisan kali ini aka saya sedikit bahas mengenai beberapa alasan bisa terjadinya kenaikan listrik.

Faktor yang sering dihubungkan dengan krisis listrik sering dikaitkan dengan kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Ini memang menjadi salah satu faktor krisis listrik,bagaimana tidak dengan kebanyakan pembangkit listrik di Indonesia menggunakan BBM. Maka tatkala harga BBM di Indonesia mengalami kenaikan sudah pasti berimbas terhadap pasokan BBM yang digunakan oleh PLN. Hal ini kemudian berimbas terhadap beban subsidi yang ditanggung PLN tentunya akan lebih besar. Maka disaat dana yang dianggarkan tetap namun biaya operasional yang diperlukan lebih besar maka salah satu langkah yang tercepat dan logis adalah perimbangan antara biaya operasional yang ada dengan banyaknya listrik yang disediakan. Dalam bahasa singkatnya adanya pemadaman listrik

S
ebenarnya permasalahan krisis listrik ini bukan hanya terjadi akibat faktor kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Ada beberapa faktor lain yang menjadi masalah krisis listrik ini dan faktor - faktor tersebut pun memiliki andil yang cukup signifikan terhadap masalah ini. Beberapa faktor tersebut antara lain :

tidak ada faktor lain sebagai energi primer untuk pembangkit. Atau dapat dikatakan hasil yang didapatkan dari energi lain selain BBM masih sangat kecil sekali
permasalahan terhadap peralatan yang digunakan (efisiensi pembangkit) dan kinerjanya
kinerja dan management dalam PLN. Ini mungkin karena budaya dalam kantor pemerintahan,semoga kedepannya dapat menciptakan iklim kerja yang lebih profesional


Namun sekali lagi penulis bukanlah orang yang pro terhadap satu pihak saja. Ini hanya sebagai sebuh hasil tulisan dan opini pribadi. Karena lebih nyaman untuk menyampaikan apa yang ada di pikran daripada dipendam terlalu lama. Untuk bahasan yang akan datang semoga bisa disampaikan mengenai solusinya ^_^

Tuesday, April 1, 2008

KAU PUISI

yo..Baby
kau sosok yang punya arti
Kau puisi...ketika datang sepi
saat nikmat yang indah
saat setpantai buta
hadirmu jadi pelengkapku di tata surya

aku butuh DUNIA dan KAU
sebagai pendamping ketika kurasakan galau
aku butuh CINTA dan KAU
adalah tema saat kurasakan galau

kau ada untuk melengkapi diriku
kau tercipta untuk menutupi kekuranganku
eL O Ve Ee (L.O.V.E)
yang membuatku bisa bertahan
seperti rumput yang takkan tumbang oleh TOPAN

emosi,perasaan,cerminan rasa aman
yang sanggup taklukan hati dengan sebuah senyuman
aku berdiri karena KAU hadir disisi
yo'ure my evrything baby
KAU takkan pernah terganti

*
KAU 'lah idaman hatiku
yang terangi aku dengan cinta
KAU hangatkan jiwaku
selimuti aku dengan kasihmu

o..coba gapai apa yang kau ingin
saat kuterjatuh sakit
kau adalah ASPIRINE
coba menuntunmu agar tetap dalam track
KAU janganlah pergi dari dalam text

dan aku mengerti apa yang KAU mau
hargai dirimu
menjadi IMAMMU
karena kau diciptakan dari tulang rusukku
selain itu karena KAU bagian dariku

*

dan dinginnya damaikan hatiku
dan hatimu tak akan berakhir


thanks to :Bondan Prakoso & fade 2 Black

Wednesday, March 12, 2008

Dear...

dalam keindahan dunia,aku berdiri mencari kepastian akan apa yang ingin kutuju. Terlena dalam kebimbangan tak bertepi. Terkadang dapat melihat lurus kedepan, namun sering pula tertarik besarnya medan dunia yang sudah terintegrasi dalam tingkatan lipat tiga yang membuat anak adam terlena dan terjerembab didalmnya. Wuih sesuatu yang amat sukar untuk dielakkan..

Tapi aku yakin pasti, dibalik kebimbangan ku ini ada yang memrhatikan dengan seksama, tiap hari,jam,menit,detik, bahkan lebih detail dari tingkatan waktu quantum yang diajarkan paman Einstein. mengasihi dengan tingkatan yang lebih dalam daripada kisah Romeo dan Juliet atau Fahri dan Maria. Mencintai lebih tulus daripada cintanya seorang Ibu kepada anaknya dan lebih tulus dari seorang kekasih terhadap pacarnya. Rasa kasih sayang dan cinta yang tidak dapat dituliskan semuanya walupun seluruh pepohonan diubah menjadi pena dan kertas dan samudera menjadi lautan tinta...

Herannya aku masih belum sanggup untuk mencarinya apalagi bertemu dengannya. Maka biarlah saat ini begini keadaannya walupun aku tahu ada benang merah yang akan menuntunku kesana..

Thursday, March 6, 2008

...[Untitled]...

Just an ordinary boy...write

Jika dunia begitu menyilaukan, maukah ada seorang yang dapat meneduhkan dengan segenap ketabahan dan kesabaran hati akan datangnya kemenangan...
Jika dunia terasa sepi dan mencekam, maukah ada yang dapat menghibur dan meramaikan demi sebuah senyum dan tawa manis yang sudah tidak terpasang di atas bibir manis itu...
Jikalau dunia terlalu menyesakkan dan mencekam maukah ada yang memeluk dan berkata kamu tidak sendirian karena aku hadir untuk mu

Wednesday, February 20, 2008

MAU BELI KUE BANG ^_^

Mau beli kue kue bang

Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke Jakarta. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan,seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.

"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya. "Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas. dia berlalu.

Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

"Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.

"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, "Tak mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak atau Ibu." Molek budi bahasanya.

Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas senyumannya.

"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali sambil tersenyum.

Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. "Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah Abang beli kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu.
"Kenapa Bang, mau beli kue kah?" tanyanya.

"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!" katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

"Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja Bang...." Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik,saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.

sumber email seorang sahabat : ashfi60@yahoo.com