Social Icons

Tuesday, April 20, 2010

Berkaca Pada Waktu dan Hikmah Kehidupan

"Belajarlah dari pengalaman dan ilmu orang yang lebih tua"


Kalimat ini mungkin sebuah kalimat yang sering ktia dengar, tapi terkadang atau sering kali menjadi sebuah frasa/kalimat yang hanya angin lalu. Sebuah nasehat yang kita "resapi" sementara tapi tereduksi seiring waktu berjalan.

Memang untuk memahami benar - benar terhadap frasa tersebut atau quote - quote yang lain tidaklah mudah, dan diperlukan perpaduan banyak unsur didalamnya. Tapi, dalam tulisan ini, bukanlah point pemahaman akan makna frasa atau quote - quote tersebut, bukan pula membahas bagaiamana mendalami nasihat didalamnya. Karena toh penulis bukanlah orang yang "tahu banyak" dalam akan hal tersebut. Tapi yang penulis coba sampaikan pada tulisan kali ini, adalah untuk berbagi sepenggal makna yang berhasil diresapi dari kalimat tersebut.

Konsep manusia, sebagai makhluk yang memiliki perpaduan banyak hal, ternyata memberi batas - batas yang harus dijalani, dimana salah satunya adalah batas waktu atau (dapat dikatakan) kehidupan. Selang waktu berjalan, makhluk yang dilabelkan manusia akan belajar terus menerus (walu tanpa disadari oleh si empunya tubuh) tentang kehidupan. Tapi yang mengejutkan, pelajaran itu sangat luas dan dinamis yang terus menerus semakin membesar dan berubah. Disinilah point keterbatasan dimainkan dalam kehidupan. Karena sesungguhnya manusia hanya memiliki waktu terbatas untuk mengerti dan memahami banyak hal tersebut.
Lantas terlintas, bagaimana orang - orang yang dahulu telah diberikan hidup menggunakan waktu dan apa yang mereka miliki untuk kehidupan?!. Setidaknya, pasti banyak hal yang mereka lakukan dan memberi dampak terhadap kehidupan kita sekarang. Atau setidaknya, banyak hal yang mereka kerjakan yang dapat "sejalan" dan "seirama" dengan apa yang kita jalani saat ini. Inilah yang menurut penulis menjadi salah satu point kuat sejarah (-namun sayangnya poin penting ini sedikit dirasakan dikarenakan pelajaran sejarah yang ada pada kurikulum sekolah lebih menekankan pada sisi hafalan - tapi kembali bukan topik ini yang ingin dipaparkan pada tulisan ini).

Belajar dari orang yang sudah "lebih tahu" akan mampu memberi kita pengalaman yang telah mereka lalui dalam mengarungi dunia. Sehingga kita tidak perlu lagi melalui fasa - fasa gelap yang mungkin telah mereka jalani. Atau lebih jauh lagi, mencapai hal yang tidak didapatkan oleh mereka sebelumnya.

Hal ini tampaknya seirama dengan istilah "memanjangkan umur". Dengan belajar dari yang sudah tua, kita akan memiliki pengalaman dan pemikiran yang didapat oleh orang tua tersebut. Apabila saat ini umur kita adalah 23 tahun dan kita mendapatkan masukan atau berbagi pengalaman dengan orang tua, guru, atau yang lebih tua, diharapkan kita akan mendapatkan pengalaman atau hikmah dari orang tersebut. Seolah - olah kita telah mencapai umur tersebut.

Selain itu, dengan pengalaman orang yang lebih tua maka kita mampu memahami sesuatu secara lebih mendalam. Ini juga mampu menjadi sebuah masukan yang konstruktif bagi kita. Karena banyak permasalahan atau pertanyaan hidup baru bisa kita selesaikan atau temukan jawabannya dalam kurun waktu yang lama. Sementara berbicara dengan orang yang lebih tua, dapat menjadi layaknya sebuah katalis dalam proses tersebut.

Proses rasionalisasi terhadap permasalahan pun tidak selamanya menjadi jawaban atas teki - teki kehidupan yang kita rasakan. Bagaiamana sejarah memberi contoh terbaik dalam kasus ini, ketika banyak hal yang berada di luar pikiran umum kita menjadi sesuatu yang tidak mustahil karena telah terjadi. Inilah faktor penting berkaca pada waktu dan belajar hikmah kehidupan.

Tapi yang perlu diperhatikan juga, bahwa semua masukan atau pengalaman tersebut belum tentu "klop" dengan kita. Bisa jadi beberapa hal yang diceritakan itu malah menjadi masukan yang destruktif pemikiran kita. Atau di lain kesempatan, malah masukan tersebut bisa membuat kita semakin pudar akan apa yang menjadi fokus kita sehingga membuat kita bimbang, Pada titik inilah, filter berperan. Sehingga kita mampu menyerap hal yang bermanfaat bagi kita dan menghindar dari hal yang tidak bermanfaat.

Semoga tulisan ini dapat menjadi manfaat, berkah, dan rahmat bagi yang membaca, terutama bagi penulis sendiri.

- - 0 - -

No comments: