Social Icons

Thursday, March 11, 2010

Kenangan SMA & (alm) “Pak Didi” (2)

 Setelah sekian lama tertunda untuk menulis kelanjutan dari tulisan sebelumnya (Kenangan SMA ; (alm) “Pak Didi” (1)), akhirnya bisa memiliki "waktu" untuk melanjutkannya. Untuk bagian ini, saya memang akan memfokuskan untuk menulis mengenai salah seorang sosok Guru yang banyak memberikan ilmu dan pemahaman dalam hidup saya ini. Dan seiring waktu berjalan, saya semakin tahu ternyata "cara pandang" yang pernah dia ajarkan kepada saya, secara langsung ataupun tidak langsung menjadi faktor yang membentuk diri saya sekarang.

Mari kita mulai mengenal sosok beliau...

Kesan pertama ketika mengenal beliau adalah, beliau termasuk guru yang GALAK dan KILLER. Dengan perawakan yang tinggi besar, jarang terlihat tersenyum, dan bersuara lantang, kesan itu seakan tak dapat dilepaskan dari sosok beliau. Apalagi jika beliau sedang mengajar di kelas, dengan cara mengajar yang boleh dikatakan "strict-きびし" beliau mampu membuat sebuah kelas yang terkenal ribut (terutama kelas yang jadi juara Liga Sepak Bola sekolah...ehemehem) berubah menjadi kelas yang hening. Bahkan apabila muridnya ada yang tidak mengerjakan tugas, atau melakukan kesalahan yang tidak perlu maka kadangkala beliau berkata KOPLOK, yang konon artinya menurut dia lebih rendah dari go**ok.

Di bagian lain, beliau juga sering kali mengingatkan dan memberi tegoran kepada murid yang bermain sepakbola di lapangan sekolah pada saat waktu jam belajar. Maklum saat masih SMA, terutama kelas 3, lapangan telah menjadi kekuasaan angkatan dan bermain bola merupakan salah satu aktivitas yang sering-dan memiliki beban sks yang besar-untuk dilakukan (kangen euy main bola lagi satu angkatan, kapan ya?!). Dampaknya, jadi sering main kucing - kucingan dengan beliau, hehe.

Selain itu beliau juga sangat "perhatian" terhadap pakain muridnya di sekolah. Salah satunya adalah apabila kita mengenakan baju yang dikeluarkan dari celana (bener ga sih begini bahasanya??) dan berpapasan dengan beliau, yah alamat sekedar "salam hangat" dari beliau akan kita dapat. Salam hangat yang "kehangatannya" bisa terasakan hingga radius beberapa meter dari TKP.

Tapi yang menarik, dengan kepribadian dan gaya dia yang seperti itu, gelar Guru paling Favorit pada bidang IPA jatuh kepadanya (selama beberapa tahun). Lantas-pasti- akan muncul pertanyaan besar,"KENAPA??!!". Karena biasanya dalam pandangan kita yang menjadi Guru favorit umumnya memiliki sifat yang kita senangi seperti  Baik (tidak pernah marah), ramah, jarang memberikan tugas/PR, dan baik dalam memberikan nilai. Faktor - faktor yang secara explisit tidak ditunjukkan oleh beliau.

Lalu kira - kira apa alasannya??

Hmmm...

tapi setelah dipikir,,, gelar itu memang pantas disematkan padanya, karena jika kita mengenal lebih dalam sosok beliau, kita tidak akan mengucap kata "kenapa" itu kembali.

Mungkin inilah alasanya (setidaknya berdasarkan apa yang penulis rasakan..), dan mungkin berbeda bagi teman teman yang lain.

Sebagai seorang guru, beliau mampu mengajarkan mata pelajaran yang merupakan -momok-berbahaya-menakutkan-mengerikan-angker di bidang IPA-yaitu Fisika- menjadi sosok yang "manis". Menjadi manis karena tidak ditambahi oleh gula (sumpah yang ini garing yah?!hehe) tapi karena cara mengajarnya yang sistematis, simple, dan gamblang Fisika menjadi lebih mudah untuk dicerna. Inilah sebuah konsep guru yang mampu menjalani peran utamanya dalam menyampaikan ilmu kepada muridnya. Karena sejatinya Guru memiliki tugas besar untuk mendidik siswa dan mengajarkan* ilmu kepada siswanya.

Terkait dengan ilmu, salah satu kepribadian yang paling saya sukai adalah "kedermawanan"nya dalam membagi beraneka ilmu. Karena, selain mengajarkan ilmu eksak, di dalam dan di luar kelas beliau juga mengajarkan ilmu mengenai kehidupan dan agama kepada siswanya. Pelajaran yang sangat berguna dalam kehidupan. Terutama bagi kita yang masih dalam masa pertumbuhan dan transisi waktu itu.

Dalam mengajarkan ilmu mengenai kehidupan dan agama, metode yang dia lakukan adalah dengan metode "mengkaji Al-Quran". Mungkin cukup mengherankan mendengarkan fakta "mengkaji ayat Al-Quran"pada saat kelas Fisika. Tapi percayalah ini terjadi!!!.

Memang frekuensinya tidak terjadi setiap kali pertemuan di kelas, dapat dikatakan tergantung dari keinginan beliau. Jika materi pelajaran sudah habis, atau beliau rasa perlu, maka beliau akan mulai untuk mengkajinya. Sistematika pengkajian Al Quran sendiri, terlepas dari adanya perbedaan pendapat dan senang atau tidak senang, cara beliau mengkaji memiliki gaya yang unik dan berbeda. Beliau mengkaji nya dengan cara meminta (atau lebih tepatnya menyuruh) salah satu anak muridnya untuk membaca Al Quran. Yang dibaca bukanlah tulisan arabnya tapi terjemahan atau arti dalam bahasa Indonesia. Setelah dibacakan oleh satu orang siswa, kemudian beliau akan mengkaji makna dan maksud dari ayat tersebut. Jikalau dirasa perlu dan berhubungan dengan ayat yang lain, maka beliau akan meminta untuk membacakan ayat yang lain.

Selain itu, di luar kelas jika kita sudah kenal baik dengan dia, beliau dapat dikatakan orang yang bersahabat. Sebagai seorang guru senior dan disegani oleh yang lain, beliau bersedia untuk berbicara dengan siswanya diluar masalah pelajaran. Tak jarang beliau tanpa sungkan diajak untuk berbicara atau mendekatkan diri kepada siswa. Hanya saja, karena sosok beliau yang sudah masuk kategori guru yang KILLER, tidak banyak dari kita yang mau memulai untuk mengobrol dengan beliau.

Saya ingat beberapa kali sempat berbicara panjang lebar dan mendapatkan banyak masukan dari beliau. Dalam obrolan itu, saya mendapat masukan dan informasi dari sumber atau sisi pandang yang berbeda. Sebuah masukan yang mampu mengajarkan saya dalam memandang sebuah masalah atau hal dalam sudut pandang yang lebih luas, tidak terkotak.

Dahulu sempat sebelum lulus dari bangku SMA saya sempat ditawari untuk suatu saat main ke rumah beliau, mengobrol, dan membahas banyak hal. Selain itu saya ditawari untuk dipinjami suatu barang (entah itu CD atau buku) untuk saya pelajari. Saat ditawari hal itu, saya sangat senang dan berharap akan dapat melakukannya.

Tapi apa daya saat berada di bangku perkuliahan, di tingkat awal perkuliahan, saya mendapat berita duka bahwa beliau telah dipanggil oleh-Nya.

Saya merindukan hal itu, mendapat pengalaman dan pembelajaran dari seorang sosok seperti beliau. Sebuah keinginan yang tidak dapat saya wujudkan saat ini....**

 --0--

*Konteks mendidik dan mengajar disini berbeda, karena mendidik berarti kita selain mengajarkan ilmu secara teori, tapi juga mampu membimbing dan mengajari siswanya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

**Direncanakan untuk dilanjutkan pada tulisan ke-3.

No comments: